Review X-Men, Lebih dari Sekedar Perkenalan Para Mutan

Cerita asal-usul memang menjadi bagian penting bagi para superhero sebelum menjelaskan tentang apa yang mereka inginkan dan bagaimana cara mereka mencapainya. Kalau jumlah superheronya tunggal, mungkin hal seperti ini tak terlalu jadi soal, tapi bagaimana dengan X-Men yang memuat hingga delapan superhero plus sejumlah karakter lain? Bisa-bisa setengah durasi film habis untuk mengenalkan mereka satu per satu namun RenaMovies.com kembali mengulas serial film ini secara lengkap. 

Kamu yang pernah membaca komik X-Men mungkin merasakan hal seperti ini dimana sebagian besar halaman hanya membahas tentang diri mereka sementara aksinya hanya muncul dalam beberapa halaman penuh saja. Marvel Comics sendiri sepertinya harus ekstra hati-hati karena ini adalah rilisan perdana dari franchise tersebut. Maka dari itu, ada banyak hal yang harus diatur sedemikian rupa dalam film ini. 

Film X-Men ini harus diakui lebih dari sekedar sebuah pekerjaan editing yang panjang dan berbelit, namun lebih dari itu. Film ini lebih dari sekedar adaptasi komik bergambar anak-anak saja dimana mungkin banyak orang kurang setuju dengan adegan pembuka film ini. Ya, film ini diawali tentang peristiwa Holocaust (pembantaian) dalam sebuah kamp di Polandia terhadap kaum Yahudi. Banyak orang menilai bahwa, hal ini tidaklah pantas untuk sebuah film aksi adaptasi komik.

Namun, memang disinilah nilai yang ditawarkan oleh film X-Men tersebut. Peristiwa Holocaust  ini memperkenalkan Magneto (Ian McKellen) yang masih anak-anak dengan kekuatan mentalnya menggerakkan benda-benda berbahan logam. Peristiwa ini pulalah yang kemudian menjadi dasar pemikiran Magneto dewasa yang pesimis pada sifat manusia hingga kemudian membuat sebuah rencana jahat, membuat para pemimpin dunia menjadi mutan dan merasakan apa yang dirasakan oleh kaum mutan. 

Profesor Xavier (Patrick Stewart), adalah mutan lain yang datang dari generasi yang sama dengan Magneto. Pada dasarnya, tidak ada permusuhan ideologis antara keduanya. Hanya saja, Xavier memiliki cita-cita bahwa mutan dapat hidup berdampingan dengan manusia atau bahkan menggunakan kekuatan mutan demi kebaikan. Demi mewujudkan cita-citanya tersebut, Xavier mengelola sebuah sekolah mutan di Westchester County. Di lain sisi, Magneto justru menganggap manusia adalah ancaman bagi eksistensi para mutan.

Walaupun film ini memiliki visual yang apik dan cerita fiksi ilmiah yang juga menarik disimak, tetap saja ada hal yang membuat film ini sedikit mengganjal. Misalnya tentang alat yang digunakan oleh Magneto untuk menciptakan mutasi terhadap umat manusia, bagaimana Magneto bisa mendapatkan atau membuatnya. Lantas mengapa Magneto justru membuat manusia menjadi mutan sementara menganggap mereka sebagai sebuah ancaman. 

Dan mungkin hal lain yang juga tak kalah mengganggu dari cerita ini adalah tentang konsep mutan dan tingkatan mereka. Kamu mungkin sudah tahu bahwa X-Men berisi Wolverine (Hugh Jackman), veteran yang disuntik cairan logam ke sumsumnya hingga mampu mengeluarkan bilah baja dari tinjunya dan sulit untuk disakiti, Cyclops (James Marsden), dengan mata yang selalu memancarkan laser penghancur; Jean Gray (Famke Janssen), mampu menggerakkan benda dengan kekuatan pikirannya; Storm (Halle Berry), mengendalikan cuaca, dan Rogue (Anna Paquin) seorang mutan pemula. Mengapa justru Wolverine yang punya peringkat teratas? Tidakkah Storm lebih baik? Namun tetap saja tim mutan Magneto justru punya kekuatan yang lebih aneh. Well ,meskipun agak membosankan, film ini tetap menarik disimak hingga akhir durasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *